Kekerasan Pada Anak
Setelah membaca salah satu artikel Tabloid Nova edisi No. 1031 Thn. XVIII yang berjudul STOP KEKERASAN PADA ANAK!, saya teringat kembali tentang besarnya peran orang tua dalam mengatasi secara dini dan mencegah terjadinya kekerasan pada anak oleh pelaku dari linkungannya.
Kekerasan terhadap anak dapat terjadi di mana saja. Mulai dari rumah, lingkungan bermain, sekolah, dan lainnya. Pelaku kekerasannya juga bervariasi, seperti teman bermain, teman sekolah, guru, orang yang tidak dikenal, bahkan mungkin orang tua anak itu sendiri.
Terkadang kita sebagai orang tua sering kurang arif dalam menghadapi pengaduan anak tentang perlakuan kasar yang diterima anak tersebut dari seseorang di luar rumah. Pengaduan anak sering ditanggapi dengan adem oleh orang tua, yang akhirnya menyebabkan timbulnya rasa frustasi pada diri anak tersebut. Anak mengadukan perlakuan kasar yang diterimanya pada orang tua karena anak tersebut memerlukan perlindungan psikologis dari orang yang dipercaya mampu untuk melindunginya, setelah dirinya menjadi tidak berdaya karena perlakuan kasar yang diperoleh dari lingkungan. Keluarga yang tinggal serumah adalah tumpuan harapan akhir si anak untuk mendapatkan dukungan dan keadilan atas apa yang telah menimpa dirinya. Trauma yang dialami oleh si anak setelah mengalami kejadian kekerasan tersebut akan berpengaruh pada perkembangan mentalnya. Bila masalah kekerasan pada anak ini tidak segera ditanggapi dan diatasi secara positif, maka trauma ini akan menanamkan nilai-nilai negatif dalam diri si anak, seperti sikap apatis, fobia, menutup diri dan lainnya.
Psikolog Anak pemilik Sekolah Taman Bermain Inklusi Buah Hati, Rahmitha P. Soedojo, Psi. atau Mitha, mengatakan: “Seharusnya semua pihak memberi kesempatan dan mendukung kepada setiap anak untuk memiliki kepercayaan dirinya. Anak dituntut untuk punya kepercayaan diri yang tinggi, asertif, dan selalu bicara terbuka. Faktor inilah yang seharusnya ditanamkan, agar ia tidak menjadi korban kekerasan di sekolah, di rumah, maupun oleh teman-temannya.”
Mendengarkan dan menelusuri kebenaran adalah sikap positif yang harus dilakukan oleh para orang tua yang menerima pengaduan anak tentang perlakuan kasar lingkungannya. Jangan emosi. Cukup dengarkan, terima pengaduannya, beri dukungan pada si anak dan periksa kembali kebenaran pengaduan tersebut. Kalau memungkinkan, minta keterangan dan pendapat pihak ketiga. Bila kebenaran pengaduan tersebut telah diperiksa dan pengaduan tersebut ternyata benar, maka lakukan tindakan positif untuk mengatasinya. Sekali lagi, jangan emosi. Yang penting adalah lakukan tindakan pencegahan agar kejadian tersebut tidak terulang dan bangun rasa percaya diri si anak yang runtuh setelah kejadian tersebut. Mintalah dukungan atau saran dari komunitas keluarga dilingkungan anda (seperti melalui forum di website ini). Bila masalahnya masih belum dapat diatasi secara musyawarah, lakukan melalui jalur hukum. Di Indonesia ada beberapa lembaga yang memiliki kompetensi untuk memberi bantuan dan perlindungan hukum kepada anak, seperti LBH APIK.
Kesimpulannya, kita tidak dapat mendiamkan terjadinya kekerasan pada anak berlangsung di lingkungan kita. Marilah bersama kita ciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi perkembangan anak-anak kita.

0 comments
Please enter your comment. Thank you.
Leave a Comment